Warta Umum, Jakarta – Persaingan mahasiswa berprestasi dari berbagai universitas ternama di Indonesia dan dunia dalam Clash of Champions (CoC) Season 3 menghadirkan pencapaian membanggakan bagi BINUS University.

Christoffer Edbert, mahasiswa Computer Science, School of Computer Science, BINUS @Kemanggisan, berhasil menembus Top 3 Clash of Champions Season 3. Ia menjadi satu-satunya mahasiswa dari perguruan tinggi swasta (PTS) yang berhasil mencapai posisi tersebut.

Pada babak tiga besar, Christoffer bersaing dengan mahasiswa dari National University of Singapore (NUS) dan Universitas Indonesia (UI). Pencapaian ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa PTS di Indonesia mampu bersaing dengan talenta akademik dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di tingkat nasional maupun internasional.

Perjalanan Christoffer di CoC tidak terlepas dari ketertarikannya terhadap dunia competitive programming. Ketertarikan tersebut juga menjadi salah satu alasan dirinya memilih program studi Computer Science di BINUS University.

Selama menjalani perkuliahan, Christoffer aktif mengembangkan kemampuan melalui komunitas Jollybee dan berbagai kompetisi pemrograman, termasuk International Collegiate Programming Contest (ICPC). Kompetisi tersebut dikenal sebagai ajang yang menguji kemampuan algoritma, logika, serta problem-solving mahasiswa.

“Aku memilih Computer Science BINUS University karena BINUS University memiliki komunitas competitive programming yaitu Jollybee yang mendorong aku dalam karier competitive programming, khususnya dalam meraih prestasi di International Collegiate Programming Contest (ICPC). Meraih prestasi ICPC tentu saja mengubah hidupku dari segi pengetahuan dan juga kesempatan untuk aku bisa berkarya di bidang teknologi,” ujar Christoffer.

Selama kuliah di BINUS @Kemanggisan, Christoffer mengasah kemampuan berpikir logis dan menyelesaikan masalah melalui berbagai pembelajaran, terutama Competitive Programming dan Matematika Diskret.

Kemampuan tersebut ternyata tidak hanya berguna dalam bidang Computer Science dan kompetisi pemrograman, tetapi juga menjadi bekal ketika menghadapi berbagai tantangan dalam Clash of Champions.

Menurut Christoffer, kemampuan kombinatorik yang diperoleh melalui Matematika Diskret cukup membantu ketika menghadapi tantangan Coin Royale pada babak Top 8. Sementara kemampuan menemukan pola dan menyelesaikan persoalan yang terus diasah melalui competitive programming membantunya menghadapi tantangan lain, termasuk Cerebral Race pada babak Top 10.

“Menurut aku pembelajaran competitive programming dan matematika diskret yang paling membantu. Kemampuan kombinatorik cukup terpakai waktu game Coin Royale. Kemampuan problem solving di competitive programming serta soal-soal seperti tes IQ yang menemukan pola juga terpakai di berbagai games seperti Cerebral Race,” jelasnya.

Pengalaman tersebut mencerminkan karakter BINUS @Kemanggisan sebagai Digital Technology Campus, yang tidak hanya mendorong mahasiswa memahami teknologi secara akademik, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, problem-solving, inovasi, dan daya saing melalui berbagai pengalaman belajar maupun kompetisi.

Ekosistem tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Christoffer. Ia menyebut komunitas Jollybee, pelatihan competitive programming, serta pengalaman mengikuti ICPC sebagai ruang yang membantunya terus berkembang.

Dalam perjalanannya, Christoffer juga mendapat dukungan dari sejumlah sosok, di antaranya Albert Yulius Ramahalim, Joceline Araki, serta Maximilianus Maria Kolbe atau Coach Lie yang turut memberikan dukungan dalam perjalanan akademik dan competitive programming.

Dukungan BINUS University juga diberikan melalui berbagai fasilitas pengembangan mahasiswa, termasuk training camp OCPC serta dukungan akomodasi transportasi dan hotel untuk kebutuhan kompetisi ICPC.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan, mendapatkan pengalaman kompetitif, sekaligus memperluas wawasan di luar ruang kelas.

Namun, perjalanan di Clash of Champions tidak hanya menuntut kemampuan akademik. Christoffer menyebut stamina dan mental sebagai dua tantangan terbesar yang harus dihadapi selama mengikuti kompetisi.

Untuk mengatasinya, ia berusaha menjaga kedisiplinan, berdoa, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk beristirahat di tengah rangkaian kompetisi yang berlangsung intens.

Sebelum mengikuti Clash of Champions, Christoffer juga telah menyelesaikan berbagai kewajiban akademiknya di BINUS University, termasuk skripsi. Kondisi tersebut membuatnya dapat memberikan fokus lebih besar selama mengikuti kompetisi.

Di luar CoC, ia tetap aktif mengajar Olimpiade Informatika bagi siswa SMA. Aktivitas tersebut menjadi salah satu caranya untuk terus mempertahankan kemampuan berpikir logis dan problem-solving, sekaligus berbagi pengetahuan dengan generasi berikutnya.

Perjalanan Christoffer menjadi salah satu gambaran bagaimana lingkungan pembelajaran dan ekosistem akademik di BINUS @Kemanggisan dapat mendorong mahasiswa berkembang menjadi talenta teknologi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan, berpikir kritis, dan menghadapi berbagai tantangan.

Pencapaian tersebut juga sejalan dengan posisi BINUS University sebagai universitas swasta No. 1 di Indonesia versi QS World University Rankings 2027. Prestasi Christoffer sekaligus memperkuat komitmen BINUS University dalam mempersiapkan mahasiswa agar memiliki daya saing di tingkat nasional maupun global.

Usai menyelesaikan perjalanannya di Clash of Champions, Christoffer memiliki sejumlah rencana untuk masa depan. Ia ingin bekerja di perusahaan teknologi terbaik, khususnya di bidang High Frequency Trading, sembari mempertimbangkan peluang melanjutkan studi maupun membangun perusahaan sendiri.

Ia juga berencana tetap mengajar Olimpiade Informatika sebagai bagian dari upayanya untuk terus belajar sekaligus berbagi pengetahuan.

Bagi mahasiswa dan generasi muda yang sedang mempersiapkan masa depan, Christoffer menitipkan pesan mengenai pentingnya memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya.

“Hidup adalah pilihan. Arah hidupmu ditentukan dari situ. Buat generasi muda, saran dari aku, kalian isi waktu hidupmu untuk banyak belajar dan bekerja untuk masa depan. Kurangi waktu untuk aktivitas sia-sia. Waktu tidak bisa kembali, gunakan waktu dengan baik,” pesan Christoffer.

Perjalanan Christoffer dari Computer Science BINUS University di BINUS @Kemanggisan hingga menembus Top 3 Clash of Champions Season 3 menunjukkan bahwa konsistensi belajar, kemampuan memecahkan masalah, serta dukungan lingkungan pendidikan dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk bersaing di panggung yang lebih luas.

Melalui BINUS @Kemanggisan sebagai Digital Technology Campus, BINUS University terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan potensi, menghasilkan inovasi, serta membawa pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh selama perkuliahan untuk menciptakan kontribusi nyata bagi masyarakat dan industri di masa depan.